Selasa, 31 Maret 2009

KEBANGGAAN PONOROGO

PITUTUR

Sri Setyo Jagad Merdhiko Bumi Pramono RogoSadumuk Bathuk Sanyari Bhumi, Suro Diro Janing Rat, Lebur dening Pangastuti

Masyarakat Ponorogo khususnya Seniman reog seakan terus merasa haus akan pertunjukan kesenian reog, meskipun Ponorogo baru saja diadakan perhelatan akbar Festival Reog Nasional. Lima Puluh peserta festival tampil secara bergantian siang sampai malam hari selama satu minggu penuh. Pesertanya pun berasal dari berbagai daerah di Indonesia, sehingga variasi pertunjukannya juga bervariasi dan tentunya tidak mengecewakan penonton. Sebenarnya sebelum diadakan festival, para seniman dan grup - grup yang akan tampil sudah melakukan latihan berkali - kali, bahkan hampir setiap hari mereka mengolah gerak tari, rasa dan irama yang mengiringi pertunjukan reognya. Selain itu, setelah festival berakhir yaitu memasuki bulan Suro, masih banyak grup - grup reog yang mengadakan pertunjukan, pagelaran dalam rangka bersih desa. Keinginan seniman reog Ponorogo untuk terus berexpresi ini, seakan tak terbendung sehingga muncul ide pertunjukan reog yang diadakan secara lokal (kecamatan, karisidenan).Gagasan itu salah satunya diwujudkannya pertunjukan Reog yang diadakan oleh seniman Reog di wilayah eks karisidenan Somoroto, yang meliputi kecamatan Kauman, Sukorejo, Sampung, Jambon dan Badegan. Pertunjukan ini diselenggarakan di desa Somoroto, disebuah tempat yang diyakini masyarakat Ponorogo sebagai peninggalan Kerajaan Bantar Angin. Dalam acara tersebut masing - masing kecamatan mengirim satu delegasi/grup, yang mana format pertunjukan diserahkan kepada grup masing - masing. Jadi dalam acara pertunjukan itu, pertunjukan reog yang dikemas dalam format festival dan Obyogan (jalanan) dipadukan. pertunjukan tersebut terkesan bebas sesuai keinginan para seniman untuk berekspresi. Kalau diperhatikan, nampaknya pemain reog (Penari) dengan penonton terjalin komunikasi yang saling "jual-beli" sehingga pertunjukan sangat berkesan dan meriah.Dari pertunjukan yang ditampilkan masing - masing peserta, dapat ditangkap bahwa sebenarya para seniman dan masyarakat Ponorogo masih sangat haus akan hiburan khususnya pertunjukan kesenian kebanggannya, Reog. Hanya saja pertunjukan yang diinginkan oleh masyarakat Ponorogo, adalah pertunjukan yang tidak terbatasi oleh pagar aturan yang ketat seperti festival sehingga penonton dapat menonton secara dekat dan tidak merasa ada batas. Demikian halnya pada sebagian seniman reog, mereka ingin pertunjukan reog tidak hanya dalam festival saja. Mungkin bagi sebagian seniman, ajang festival reog masih bernuansa kepentingan kelompok atau dapat dikatakan tidak fair. Terlepas dari maksud dan tujuan diselenggarakannya pertunjukan tersebut, yang perlu kita garis bawahi adalah keinginan masyarakat dan para seniman reog yang sangat besar untuk mengekspresikan diri dalam kesenian reog. Semangat berekspresi inilah yang menjadi salah satu faktor tetap hidupnya suatu kesenian, khususnya kesenian tradisiona. Kegiatan yang dilaksanakan di Somoroto ini sangat membanggakan bagi para pecinta seni tradisi, karena keterlibatan antara seniman dan masyarakat dalam keseniannya sangat tinggi. Mungkin tanpa campur tangan pemerintah pun, mereka sudah dapat mengadakan perhelatan yang sangat meriah. Semoga saja acara semacam ini dapat diagendakan secara periodik (bulanan, tri wulanan, tahunan) sehingga masyarakat dapat terhibur dan seni reog terus akan hidup.

MY SCHOOL"SMKN 1 JENANGAN"


SMK Negeri 1 Jenangan berdiri tahun 1964 hasil prakarsa pemerintah daerah dan dunia usaha/ dunia industri di ponorogo yang untuk pertama pada saat itu disebut STM (Sekolah Teknologi Menengah) Persiapan Negeri Ponorogo. Secara resmi lembaga ini menjadi STM Negeri Ponorogo berdasarkan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 148/Diprt/BI/66 tanggal 1 Pebruari 1966. Perubahan STM Negeri Ponorogo menjadi SMK Negeri 1 Jenangan berdasarkan SK Mendikbud nomor 036/0/1997 tanggal 7 Maret 1997
SMK Negeri 1 Jenangan menyelenggarakan diklat terhadap kurang lebih 950 siswa secara reguler dengan tiga bidang keahlian meliputi Bangunan dengan spesialisasi Gambar Bangunan dan Kerja Kayu, Elektronika Industri dan Mesin Perkakas serta Industri.
Pada tahun 2002, melalui Program IGI (Indonesian German Institute) yang merupakan implementasi School Empowering Program (SEP) secara nyata mampu mereposisi SMK Negeri 1 Jenangan menjadi PPKT Ponorogo. Penyelenggaraan pendidikan professional (Community College), pelatihan berbasis kompetensi (short course) dan diklat regular SMK dengan dukungan fasilitas yang representatif, manajemen terstruktur, program yang qualified serta SDM yang kompeten adalah wujud pengembangan program Indonesian German Institute (IGI) di PPKT Ponorogo.
PPKT Ponorogo sebagai wahana yang didesain untuk mensinergikan sistem pendidikan yang permeable berorientasi kebutuhan pengguna tamatan (user). Sebagai IGI Partner/Sister secara aktif, PPKT Ponorogo berhasil membangun jalinan kerjasama dengan institusi yang tergabung dalam IGI Alliance. Community College Ponorogo yang merupakan hasil joint program PPKT Ponorogo/SMK Negeri 1 Jenangan dengan beberapa politeknik (PENS ITS Surabaya, Polman Bandung, ATMI Surakarta) adalah implementasinya. Community College Ponorogo menyelenggarakan tiga program studi yaitu Teknologi Informasi, Mekatronika dan Mesin Industri. Seamless education yang memungkinkan bridging training bagi tamatan SMA dan alih spesialisasi bagi tamatan SMK menuju pendidikan lanjut dalam jenjang pendidikan vocational di Politeknik secara berkesinambungan adalah bentuk kerjasama yang dikembangkan dalam program ini. Program ini akan terus dikembangkan dengan melibatkan semakin banyak lagi bentuk kolaborasi dengan beberapa politeknik maupun industri. Untuk mendukung semua proses aktifitas yang semakin komplek, PPKT Ponorogo pada tahun 2007 mempersiapkan diri untuk memperoleh sertifikat Sistem Manajemen Mutu ISO 9001 : 2000.
Teknologi informasi, Mekatronik dan Mesin industri merupakan kompetensi yang menjadi core guna mewujudkan pendidikan professional maupun pelatihan berbasis kompetensi yang terintegrasi dalam proses produksi serta kemampuan akses pengembangan pendidikan berbasis teknologi informasi di PPKT Ponorogo. Integrasi diklat dan produksi secara sinergi yang merupakan implementasi Production Based Curicullum dikembangkan dengan memproduksi hand tracktor sebagai hasil produk manufaktur. Langkah awal ini untuk mewujudkan produksi dalam sistem manufaktur yang lebih komplek dengan melibatkan bidang-bidang yang menjadi konsentrasi pengembangan beserta upaya-upaya pemasaran yang sistematik guna memasuki industri manufaktur.